Pohon Geulis Berdaun Manis untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar

Oleh : Desy Purwitasari


”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. At-Tirmidzi).
 Hadis tersebut memberikan gambaran bahwa memiliki ilmu sangatlah penting. Tidak hanya di kehidupan dunia, ilmu juga yang akan memberikan kebahagiaan kita kelak di akherat. Dengan ilmu, manusia bisa membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang bermanfaat maupun yang tidak. Dengan ilmu juga derajat kita akan ditinggikan beberapa derajat dibandingkan dengan orang yang tak berilmu.

Ilmu bisa diperoleh dengan beberapa cara. Pertama, dengan bertatap muka secara langsung dengan guru. Kegiatan belajar mengajar di sekolah (KBM), kegiatan ekstrakurikuler, termasuk dalam cara ini. Guru mentransfer ilmu melalui proses pengajaran secara klasikal atau bisa juga dengan metode talaqi (face to face) kepada siswa. Siswa dapat bertanya langsung kepada guru tentang hal-hal yang tidak dimengerti pada waktu kegiatan ini. Adanya interaksi antara guru dan siswa menumbuhkan ikatan emosional tersendiri. Kedua, dengan cara membaca. Metode membaca diajarkan pertama kali oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW ketika menyampaikan wahyu yang pertama. Padahal saat itu Rasulullah dalam keadaan tidak bisa membaca. Artinya, dalam kondisi apapun kita harus tetap menuntut ilmu. Dengan membaca, menuntut ilmu akan menjadi lebih mudah karena tidak memerlukan kehadiran guru secara langsung. Waktunya lebih fleksibel, menyesuaikan jadwal kita sendiri. Ketersediaaan buku saat ini juga beraneka ragam, bahkan ada juga buku yang diperuntukkan anak usia 0 tahun.
Pepatah lama mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia, dan buku adalah gudang ilmu. Keadaan di berbagai belahan dunia baik pada masa lalu maupun sekarang bisa dengan mudah kita ketahui dengan membaca buku. Biayanya murah karena kita tidak perlu menuju tempat yang dimaksud dalam buku. Pada saat membaca buku, pikiran kita akan terbawa oleh isi bacaan. Otak kita akan bekerja menganalisis alur cerita yang dibawakan. Imajinasi kita akan berkembang seluas lautan ilmu yang membentang. Jemari tangan kita yang dipandu oleh kontrol otak akan mampu menorehkan tulisan yang berkesan. Memori ingatan kita akan semakin melekat kuat tak lekang oleh kemajuan zaman. Begitulah dahsyatnya manfaat membaca buku. Pertama, menambah luas wawasan pengetahuan. Kedua, meningkatkan kemampuan berpikir baik kemampuan berpikir analitis maupun imaginatif. Ketiga, mempetajam daya ingat. Keempat, meningkatkan ketrampilan menulis seiring dengan bertambah banyak kosakata yang diserap. Kelima, sebagai hiburan dengan biaya murah sehingga dapat mengurangi tingkat stress.
Sangat disayangkan, walaupun kita tahu bahwa membaca memberikan manfaat yang dahsyat namun tingkat kesadaran membaca di negeri tercinta ini masih sangat rendah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 dalam studinya yang bertajuk “Most Littered Nation In the World”, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara sehubungan dengan minat membaca. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih cenderung menyukai memegang gadget untuk chatting atau melihat status orang, menonton televisi, dan ngerumpi daripada memanfaatkan waktu untuk membaca buku. Menyedihkan memang melihat kenyataan demikian. Namun, belum terlambat untuk melakukan perubahan. Saat ini merupakan waktu yang tepat, mulai dari hal kecil, sedikit demi sedikit, dan sederhana.
Minat baca bukanlah hal yang bisa datang secara tiba-tiba. Memerlukan suatu proses hingga membuatnya menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dipupuk dari kecil, ketika dewasa akan berbuah manis. Jika diawali dari masa balita, maka tidak terlalu sulit untuk melanjutkannya. Masalahnya adalah bagaimana jika anak sudah melewati masa balitanya atau sudah memasuki usia Sekolah Dasar ? Masih bisakah kita menumbuhkan minat baca mereka ? Jawabannya adalah masih bisa, tentunya dengan dukungan dan motivasi dari berbagai pihak terkait seperti guru, orang tua, maupun sekolah. 
Siswa Sekolah Dasar (usia 6-12 tahun) pada dasarnya sangat senang mendapat hadiah. Berangkat dari konsep inilah pohon geulis yang sudah diterapkan di tingkat SMP bisa diterapkan juga di SD. Pohon geulis singkatan dari Pohon Gerakan untuk Literasi Sekolah.  Sebuah pohon yang memberikan gambaran tentang buku-buku yang telah dibaca oleh siswa. Informasi tentang siapa pembacanya, judul bacaannya, berapa jumlah buku yang sudah dibaca oleh siswa bisa kita peroleh dari pohon ini. Antusias anak-anak untuk mendapat setiap helai daun sangat besar. Setiap helai daun yang mereka dapat mereka anggap sebagai hadiah dari guru. Mereka berlomba-lomba mengumpulkan helai daun untuk dipasang pada pohon geulis. Berarti, yang paling banyak menempelkan daun pada pohon maka dialah yang paling banyak membaca buku.
Pembuatan pohon geulis sangat mudah dan murah.  Bahan-bahannya mudah ditemukan di sekitar kita. Bahkan bisa juga memanfaatkan barang bekas (recycle). Model pohon bisa berbentuk dua dimensi atau tiga dimensi sesuai kreativitas guru. Berikut ini merupakan proses pembuatan pohon geulis.
1.    Buatlah batang pohon dan ranting sebagai tempat untuk menempel daun.
Batang pohon bisa menggunakan kertas asturo, kertas semen, kertas karton, kardus bekas,  atau ranting pohon yang sudah mengering. Batang pohon dua dimensi bisa diletakkan menempel pada dinding kelas. Sedangkan batang pohon tiga dimensi bisa diatur di pot tanaman. Guru dan siswa bisa bekerjasama untuk membuat batang pohon geulis ini.
2.    Menyiapkan helai daun yang akan ditempel pada batang pohon.
Daun terbuat dari kertas karena akan digunakan untuk menulis. Daun dua dimensi dibuat dengan selembar kertas. Daun tiga dimensi dibuat dengan kertas rangkap dan gambar bolak-balik. Desain daun tidak ditentukan secara khusus. Semakin menarik daun yang dibuat, maka pohon geulis menjadi semakin manis dilihat.
3.    Siswa membaca buku.
Alangkah baiknya sekolah membuat program membaca buku minimal 15 menit sebelum pelajaran dimulai untuk pembiasaan. Sementara program pojok baca (meletakkan buku bacaan di sudut kelas) dan program jam perpustakaan setiap pekan tetap berjalan. Namun, pada dasarnya siswa bebas menentukan waktu untuk membaca buku. Bisa setelah selesai mengerjakan soal sambil menunggu temannya yang lain, bisa saat istirahat, atau bisa juga di rumah sepulang sekolah.
4.    Siswa membuat ringkasan dari buku yang telah dibaca, kemudian paraf orang tua.
Menuliskan kembali buku yang telah dibaca dalam bentuk ringkasan bermanfaat untuk melatih daya ingat dan pemahaman siswa terhadap isi bacaan. Selain itu, dapat melatih ketrampilan motorik halus melalui tulisan tangan. Siswa cukup menyediakan sebuah buku khusus untuk membuat ringkasan ini. Paraf orang tua merupakan bentuk controlling terhadap bacaan siswa. Ketika siswa meminta paraf dari orang tua mereka, maka terjadilah interaksi antara keduanya. Cara ini bisa membangun kedekatan hubungan emosional antara orang tua dan anak di tengah kepadatan jadwal orang tua. Hal-hal terkait isi bacaan menjadi bahan pembicaraan yang bisa diperluas menurut kebutuhan. Dengan demikian, orang tua telah turut serta mendukung upaya peningkatan minat baca siswa.  
5.    Siswa menyerahkan ringkasan ke guru, kemudian guru memberikan reward berupa helai daun.
Apresiasi terhadap usaha siswa yang telah menyelesaikan membaca sebuah buku, lengkap dengan ringkasannya dengan memberikan langsung helai daun yang manis. Mereka akan lebih berkesan jika guru menyediakan beberapa model helai daun, kemudian mereka diperbolehkan memilih helai daun yang mereka suka.
6.    Siswa menuliskan nama dan judul buku yang telah dibaca pada helai daun yang manis.
Siswa berhak menuliskan namanya pada tiap helai daun yang berhasil dikumpulkan. Judul buku dituliskan di bawah nama siswa. Keterangan tambahan seperti nama penulis buku dan tahun terbit juga bisa dituliskan sebagai informasi tambahan.
7.    Siswa memasang daun pada batang atau ranting pohon geulis yang ia suka.
Siswa diperkenankan memilih letak batang atau ranting untuk melekatkan daun yang sudah ditulis nama beserta judul buku. Gunakan lem atau selotip untuk menempelkannya. Semakin banyak daun yang dilekatkan maka siswa tersebut semakin berperan dalam memperindang pohon geulis. Semakin rindang pohon geulis, maka pohon geulis semakin tampak manis.

            Guru Bahasa Indonesia dapat memanfaatkan pohon geulis sebagai tambahan nilai. Adanya pohon geulis mampu memotivasi siswa SD untuk banyak membaca. Harapannya adalah kebiasaan membaca ini bisa terbawa hingga mereka dewasa dan menularkan kembali ke generasi berikutnya. Oleh karena itu mari kita coba bersama menerapkan pembuatan pohon geulis baik di sekolah maupun di rumah agar menjadi motivasi buat anak-anak usia SD supaya rajin membaca. Jika minat baca siswa meningkat maka bersiaplah suatu saat negeri ini akan diwarnai oleh pemuda yang kuat dan tangguh.